21 March 2018

Masjid Agung Darul Muttaqin Batang




 Letak Kabupaten Batang yang berada di pertengahan ruas jalan yang menghubungkan Jakarta – Surabaya menjadikannya tempat yang tepat untuk beristirahat bagi para musafir. Jika Anda melewati Kota Batang, sempatkanlah untuk mampir sejenak di Masjid Agung Darul Muttaqin Batang untuk melaksanakan ibadah shalat sambil beristirahat.

Masjid Agung Darul Muttaqin Batang terletak persis di jantung Kota Batang tepatnya di sebelah barat alun-alun Batang. Posisi strategis ini menyebabkannya selalu ramai dikunjungi oleh para jamaah baik yang berasal dari sekitar Kota Batang maupun juga para musafir luar kota.

Dari kejauhan, orang akan langsung bisa mengenali bangunan Masjid Agung Darul Muttaqin Batang yang memang khas. Merupakan perpaduan antara bangunan berarsitektur modern di bagian serambi dan bangunan asli di bagian utama masjid ditambah dengan menara yang menjulang setinggi 29 meter di halaman depan menjadikannya bangunan yang megah nan anggun dipandang.

Ruang utama masjid, meskipun telah mengalami renovasi, masih tetap nampak keasliannya. Ruangan yang sebagian besar terdiri dari kayu tersebut berdiri kokoh di atas tiang berjumlah 12 buah. Belum lama ini, ruangan tersebut dipercantik dengan penambahan ukiran di setiap tiangnya dan juga pengecatan ulang seluruh kayu di ruangan tersebut dengan warna coklat yang membuat suasana di dalam ruangan tersebut menjadi syahdu dan khusyuk.

Sedangkan untuk bangunan serambi telah mengalami perombakan menyeluruh sehingga terkesan lebih modern. Bangunan berlantai dua yang mampu menampung kurang lebih 2000-3000 orang ini hampir seluruhnya dibalut dengan keramik dan marmer berkualitas tinggi.

Di halaman depan masjid, berdiri menara setinggi 29 meter. Angka 2 melambangkan Allah dan Nabi Muhammad SAW sedangkan angka 9 melambangkan Wali Songo. Di bagian bawah menara ini terdapat sebuah ruangan yang berfungsi sebagai kantor Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang sekaligus perpustakaan masjid.

Sejarah Perkembangan Masjid Agung Batang

Petunjuk mengenai sejarah pendirian Masjid Agung Darul Muttaqin Batang dapat ditemui pada ukiran angka tahun 1242 H (1821 M) yang terdapat pada mimbar khutbah berbahan kayu. Selain itu, pada peng-imam-an (tempat imam, pen.) juga terdapat ukiran berangka tahun 1247 H (1826 M). Dari dua petunjuk tersebut, bisa disimpulkan bahwa usia Masjid Agung Darul Muttaqin Batang sudah cukup tua.
Keberadaan Masjid Agung Darul Muttaqin Batang memang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan masyarakat Batang itu sendiri. Masjid Agung Darul Muttaqin Batang telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kota Batang. Sejarah mencatat pada tahun 1850-an di Batang pernah hidup seorang ulama besar bernama KH. Ahmad Rifai yang merupakan pendiri gerakan Rifaiyyah yang terkenal menjadi penentang kolonialisme Belanda waktu itu. Dalam sejarahnya, KH. Ahmad Rifai pernah ‘diadili’ Belanda karena ajaran-ajarannya dianggap menentang pemerintah kolonial.
Di bagian belakang Masjid Agung Darul Muttaqin Batang terdapat sebuah makam orang yang menjadi muadzin di Masjid Agung Darul Muttaqin Batang. Muadzin tersebut tewas tertembak oleh peluru penjajah sehingga untuk menghormatinya jenazah dimakamkan di bagian belakang Masjid Agung Darul Muttaqin Batang.
Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang menyadari bahwa fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah (mahdlah, pen.) semata. Namun juga harus bisa berfungsi sebagai pusat peradaban umat Islam. Oleh karena itu, Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang menyelenggarakan berbagai program dan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat Islam di Batang.
Kiprah Masjid Agung Batang Mengabdi untuk Umat
Secara umum, ada tiga fungsi yang coba dikembangkan oleh Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang untuk melayani masyarakat di sekitarnya yaitu fungsi pendidikan, dakwah, dan sosial. Dalam bidang pendidikan, Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang telah mendirikan tiga lembaga pendidikan di bawah naungannya yaitu RA/TK Al Karomah, TPQ Al Karomah, dan SMP Islam Batang.
Selain tiga lembaga tersebut, di belakang Masjid Agung Darul Muttaqin Batang juga terdapat sebuah madrasah aliyah, madrasah ibtidiyyah, dan madrasah diniyyah yang menjadi ‘keluarga besar’ Masjid Agung Darul Muttaqin Batang meskipun dalam naungan lembaga/yayasan lain. Sehingga ada istilah KABELMAS (Kampus Belakang Masjid, pen.) karena di belakang Masjid Agung Darul Muttaqin Batang terdapat kompleks pendidikan mulai dari tingkat TK sampai SLTA.
Dalam bidang dakwah, Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang secara rutin mengadakan pengajian umum setiap malam Rabu yang telah berjalan kurang-lebih 20 tahun. Selain itu, dalam setiap peringatan hari besar Islam (PHBI), Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang juga senantiasa mengadakan pengajian baik yang berskala sederhana maupun besar.
Fungsi sosial Masjid Agung Darul Muttaqin Batang diimplementasikan dengan mendirikan lembaga keuangan BMT bekerjasama dengan pihak investor dan koperasi untuk memberikan kemudahan pinjaman modal usaha bagi yang membutuhkan. Di samping itu, Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang juga mengelola panti asuhan untuk menyantuni yatim-piatu di sekitar Kota Batang.
Kegiatan keremajaan dan kepemudaan di Masjid Agung Darul Muttaqin Batang terwadahi dalam organisasi Ikatan Pemuda dan Remaja Islam Masjid Agung Batang (IPRIMA, pen.). Beberapa kegiatan telah dilakukan oleh IPRIMA untuk menyemarakkan hari-hari besar Islam misalnya Gema Muharram yang diselenggarakan untuk menyambut Tahun Baru Hijriyah dan Festival Tong-Tong Prek untuk menyemarakkan bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
Setiap malam Hari Raya Idul Fitri, Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang menampung dan menyalurkan zakat fitrah dan zakat maal para muzakki (orang yang berzakat, pen.) kepada para mustahiq (orang yang berhak menerima zakat, pen.). Demikian pula setiap Hari Raya Idul Adha, Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang juga menerima, menyembelih, dan menyalurkan hewan qurban yang diberikan oleh masyarakat.
Yang Unik dari Masjid Agung Batang
Ada beberapa hal unik yang menjadi ciri khas Masjid Agung Darul Muttaqin Batang sekaligus mitos yang melingkupi keberadaan Masjid Agung Darul Muttaqin Batang di tengah masyarakat Batang. Di Batang ada tradisi kliwonan (semacam pasar malam yang diadakan setiap malam Jumat Kliwon, pen.) yang merupakan warisan budaya leluhur.


Tradisi kliwonan tidak bisa dilepaskan dari Masjid Agung Darul Muttaqin Batang karena ada satu kepercayaan yang sampai saat ini masih dianut oleh sebagian masyarakat Batang dan sekitarnya. Di Masjid Agung Darul Muttaqin Batang ada sebuah sumur yang dipercaya airnya – atas izin Allah – bisa menjadi media pengobatan penyakit dan tolak bala.
Terutama bagi orang tua yang ingin agar anak-anaknya tidak mudah terserang penyakit maka mereka akan memandikan anaknya dengan air sumur Masjid Agung Darul Muttaqin Batang setelah sebelumnya anak tersebut diguling-gulingkan terlebih dahulu di Alun-alun. Setelah dimandikan dengan air sumur tersebut, pakaian yang digunakan oleh anak tersebut harus dibuang dan diganti dengan pakaian yang lain.
Terlepas dari masalah percaya atau tidak, tradisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Masjid Agung Darul Muttaqin Batang telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Batang sejak dahulu. Menyadari akan hal tersebut, Ta’mir Masjid Agung Darul Muttaqin Batang terus berupaya mengabdikan diri kepada masyarakat Batang melalui berbagai program dan kegiatannya untuk tetap menjadikan Masjid Agung Darul Muttaqin Batang sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat Batang yang terus berkembang. Sebab diyakini bahwa itulah yang menjadi harapan dan cita-cita para pendiri Masjid Agung Darul Muttaqin agar masjid menjadi pusat peradaban Islam tanpa harus kehilangan ruh ke-Ilahi-annya. (arh)

Sumber :
https://hakimbao.wordpress.com/2011/01/26/masjid-agung-darul-muttaqin-batang-an-unofficial-history/

Sejarah musyawarah para Kyai di Alas Roban - Batang


Syahdan, lima kiai sepuh bersepakat bertemu di tengah-tengah Pulau Jawa. Pertemuan ini dirasa mendesak untuk segera dilakukan. Pasalnya, kondisi masyarakat di bumi Nusantara sudah sedemikian menderita, lelah, dan terpecah. Tiga ratus tahun sudah mereka hidup di bawah tekanan penjajah.

Alas Roban dipilih sebagai lokasi yang tepat untuk mengadakan pertemuan. Selain lokasinya berada di tengah-tengah Jawa, kondisinya yang berupa rimba raya akan mengaburkan mata perhatian penjajah Belanda, meski tetap saja mata-mata Belanda berhasil mengendusnya.
Bagi Anda yang belum familiar, Alas Roban terletak di jalur lingkar Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Berada di jalur utama Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, jalan di Alas Roban curam dan berkelok. Hingga saat ini di kanan-kirinya terdapat pepohonan yang tinggi dan lebat.
Pada hari yang telah ditentukan, dari daerah Banten Kiai Haji Nawawi bergerak ke arah timur. Kiai Haji Khalil bertolak dari Pulau Madura menuju ke barat. Begitu pula Kiai Haji Shalih mendekat ke barat.
Sementara di titik yang dituju, di Alas Roban, sudah menunggu Kiai Haji Anwar dan Kiai Haji Abdul Karim. Maklum, sejak awal Kiai Anwar didaulat sebagai tuan rumah, karena asli orang Batang, Jawa Tengah. Sementara Kiai Abdul Karim bertempat tinggal di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Dengan demikian dia datang lebih awal.
Kelima kiai ini masing-masing memiliki kesamaan dan ikatan antara yang satu dengan lainnya.
Dalam tradisi keilmuan, semuanya lahir dan besar dalam pendidikan keislaman pesantren. Kota suci Mekkah sama-sama menjadi pelabuhan terakhir perjalanan intelektual mereka. Kelimanya juga pernah menetap di kota kelahiran Nabi itu, dalam waktu yang cukup lama. Bahkan Kiai Nawawi menetap di Mekkah hingga akhir hayat.
Sebagai intelektual Muslim yang mengagungkan sistem transmisi keilmuan, atau ketersambungan antara pengajar dan murid yang bermuara pada Kanjeng Nabi Muhammad, bisa dipastikan mereka berkerabat. Artinya, sangat dimungkinkan mereka murid dari satu tokoh, atau cucu murid dari tokoh yang sama. Kemungkinan lain, salah satu dari mereka adalah guru atau murid dari lainnya.
Dan, memang benar. Kelak, tiga dari lima kiai itu menjadi guru dari mahaguru kiai-kiai pondok pesantren di Pulau Jawa, yaitu Kiai Haji Hasyim Asy’ari Jombang. Ketiga kiai itu tidak lain adalah Syekh Nawawi (Banten), Kiai Khalil Bangkalan (Madura), dan Kiai Shalih Darat (Semarang).
Satu lagi kesamaan yang mereka miliki. Meskipun telah menjadi tokoh yang memiliki reputasi hingga ke mancanegara, hati dan pikiran mereka tetap terikat di bumi pertiwi. Air mata dan kasih sayang mereka dicurahkan untuk bangsa Indonesia.
Kelima kiai ini akhirnya bertemu di Alas Roban - Batang. Mereka bermusyawarah, mencari jalan keluar agar rakyat Indonesia bisa terbebas dari penderitaan. Kepada para santri, mereka bersepakat mengajarkan kedaulatan berfikir dan kesanggupan untuk berjuang melawan kezaliman.

Di ujung pertemuan, mereka bersama para santri berdoa, memohon kepada Tuhan agar diberikan jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Dari kejauhan, doa-doa yang dilantunkan para kiai dan santri itu terdengar bergemuruh.
Telik sandi Belanda akhirnya bisa menemukan keberadaan mereka. Sumber suara dilacak hingga ketemu. Namun ketika sudah semakin dekat, telik sandi menjadi bingung, karena hanya mendapatkan orang-orang yang duduk bersama menghadap ke arah barat sambil bersuara ha-hu, ha-hu, ha-hu, ha-hu.
Rupanya, saat itu doa-doa yang sedang dilafalkan (dibaca) adalah surah Al-Ikhlas. Karena tidak mengenali bacaannya, telinga si telik sandi tadi hanya menangkap suara ha-hu, ha-hu, ha-hu, ha-hu. Akhirnya, telik sandi berkesimpulan tidak melihat tanda-tanda adanya pasukan atau perkumpulan orang yang mau merencanakan perlawanan.
Kelak, lima hingga enam puluh tahunan kemudian (1945), doa kiai-kiai yang juga menjadi doa dari seluruh rakyat Indonesia ini terwujud. Bangsa Indonesia merdeka.
Peristiwa di atas terjadi pada akhir tahun 1800-an. Saya menerima kisah ini dari figur kharismatik Kiai Haji Dimyati Rois, pengasuh pesantren Al-Fadlu wal Fadilah, Kaliwungu, Kendal, pada pertengahan Februari 2017.
Dari kisah di atas kita menjadi mengerti, begitu besar dan tulus rasa cinta para ulama terhadap bangsanya, Indonesia. Tidak hanya memberikan contoh kepada kaum muda, bagaimana menjadi pribadi yang berdaulat dalam berfikir dan bersikap. Lebih dari itu, para ulama juga mengupayakan lahirnya perubahan secara spiritual. Hal ini sekaligus menjadi ciri khas perjuangan para kekasih Tuhan itu.
Maka, tidak aneh, ketika hari ini terdapat sekelompok orang yang berusaha mengganggu keutuhan NKRI, kaum santri tampil ke muka. Baik secara personal maupun melalui wadah organisasi sosial kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama (NU). Baik melalui penyampaian argumentasi, maupun keberadaan barisan kaum muda yang siap membentengi negeri, seperti GP Ansor dan Bansernya.
Mengapa demikian? Ya, karena sejak awal nenek moyang dan para gurunya telah menanamkan sikap cinta kepada rakyat dan bangsanya.
Sikap kaum Nahdliyin yang demikian tidak sedang pencitraan atau berperilaku palsu. Tetapi, memang demikian adanya. Sebagaimana para pendahulunya, cinta kaum santri kepada negaranya begitu besar dan serius.
Kepada saya, Mbah Dim (demikian masyarakat luas mengenal Kiai Haji Dimyati Rois) juga menasihatkan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan persatuan dari seluruh elemen bangsa, bila ingin berjaya di masa depan.
“…Jauh sebelum Indonesia merdeka, di bumi Nusantara sudah ada orang-orang yang hebat yang memiliki kecerdasan, kedigdayaan dan juga keunggulan dalam menyelenggarakan pemerintahan. Namun, kaum penjajah juga jauh lebih cerdik dalam memecah-belah elemen yang dimiliki bangsa ini,” jelas Mbah Dim.

Sumber : https://geotimes.co.id/kolom/politik/musyawarah-para-kiai-di-alas-roban/

KEGIATAN DONOR DARAH KBWB

KBWB bersama PMI BATANG mengadakan acara Donor Darah yang dilaksanakan pada hari selasa 20 maret 2018 sore tadi ,bertempat di Kantor PMI BATANG Jalan Dr.Sutomo No.28,Kauman, Kec. Batang, Kabupaten Batang,(0285) 391331
Adapaun manfaat dari Donor Darah bisa membuat tubuh jarang terkena sakit dan terhindar dari kanker, stroke, dan serangan jantung. Dengan rutin melakukan donor darah membuat kadar zat besi dalam darah menjadi normal,serta dapatmeningkatkan produksi sel darah merah.
Dengan menyumbangkan darah,berarti kita sudah menyelamatkan nyawa orang lain. Tidak perlu repot-repot jadi pendekar untuk nyelamatin nyawa orang lain, dengan Donor Darah juga bisa. Selain dapat pahala, badan jadi sehat.

Salaam KBWB..
Sekali Saudara Sedulur Saklawase..
WE CARE TO SHARE...






19 March 2018

Sejarah Desa Gombong, Pecalungan, Batang


Nama Desa Gombong terbentuk sejak jaman penjajahan Belanda telah ada berupa “ Perkumpulan atau jam’iyah dalam kehidupan sehari – hari untuk pendalaman dan pemahaman sosial keagamaan dan sampai saat ini tetap dilestarikan oleh warga Desa Gombong Kec. Pecalungan Kab. Batang.
Sumber lain menyebutkan bahwa riwayat bubakan tanah leluhur nama desa Gombong tidak lepas dari inspirator – inspirator para sesepuh desa dan pemangku agama serta pejuang tanpa tanda jasa, sebagiamana yang dapat kita lihat sekarang ini telah dikenal jauh sebelum merdeka yaitu tepatnya tahun 1935. Nama Desa Gombong ada beberapa sumber, namun masing – masing sumber dari nama tersebut bila ditelaah dengan nama yang kita kenal sekarang ini ada 3 ( tiga ) asal usul yang valid yang dijadikan nama desa Gombong yaitu :
Berasal dari kata Banding, bahwa dari kata tersebut terkandung maksud bahwa desa Gombong adalah sebuah desa yang menjadi bahan perbandingan diantara desa – desa lain disekitarnya, seperti bila ditinjau dari segi geografisnya desa Gombong sebuah perkampungan yang berupa pegunungan dan di kawasan desa hutan disamping itu juga sebagai bahan perbandingan pemerintah dalam memberikan kebijakan dalam pungutan pajak berdasarkan klasifikasi tanah antara desa sebelah utara dengan sebelah selatan desa Gombong.
Berasal dari kata Gombongan, asal kata Gombongan menurut bahasa Santri ( Pemuka Agama ) berarti Perkumpulan Kelompok – Kelompok untuk mendalami pengetahuan sosial keagamaan di lingkungan yang rele Sehingga kata Gombongan dikandung maksud bahwa desa Gombong adalah merupakan sekumpulan kelompok – kelompok yang mengutamakan musyawarah untuk menyatukan visi dan misi yang mengutamakan kepentingan umum untuk membetuk satu kesatuan lembaga adat dengan menjunjung tinggi budaya, norma – norma kebangsaan yang senergi dengan norma – norma agama serta mengedepankan perilaku akhlaqul karimah.
Desa Gombong berasal dari kata “ Gombong Bondowoso “. Gombong Bondowoso artinya adalah sautu ilmu kanuragan atau ilmu kesaktian yang dimiliki oleh salah seorang leluhur desa Gombong. Hal ini apabila sekilas dikaitkan dengan fenomena alam sekitar desa Gombong sangat jelas bahwa di wliayah desa Gombong yang berupa pegunungan dengan kemiringan yang cukup curam sangatlah sulit memanfaatkan lahan pertanian persawahan dengan pengairan sepanjang tahun. Konon sewaktu bubakan untuk area persawahan salah seorang leluhur desa dengan segala kekuatan supranaturalnya membuat saluran irigasi agar air sampai menjangkau sampai yang dinamai sekarang dinamai sawah tandon ( bahasa jawa )  yang artinya tampungan atau sawah deggara ( bahasa jawa deg – deg gara  ) yang artinya berdebar – debar bila airnya tak sampai sawah tujuan yang dikandung maksud agar airi tersebut dapat menjangkau area – area tanah yang paling ujung bisa teraliri air seperti wilayah sawah makam dawa yaitu paling ujung desa dan sawah grantungan yang artinya sawah gantung yang sulit air. Dengan kekuatan supranaturalnya, beliau dapat membuat saluran irigasi melewati lereng – lereng pegunungan bebatuan, dan membuat bendungan sungai yang berbatu besar – besar dengan waktu sekejap dikala warga desa tertidur pulas.

Dari penuturan riwat para sesepuh desa Gombong kehidupan masyarakatnya tidak bisa lepas dengan kehidupan alam dan banyak adat kebiasaan yang termutasi dengan budaya koloni Belanda selama kurang lebih 350 tahun dan Jepang 3.5 tahun.
Pada perkembangan selanjutnya dari terbentuk perkumpulan satu kesatuan lembaga adat maka Pemerintahan Desa Gombong mulai terbentuk sejak kolonial Belanda sekitar tahun 1920 telah mengalami beberapa perubahan dalam berdemokrasi dan sistem pemerintahan. Dalam sistem pemerintahan telah mengalami beberapa fase yaitu sistem kerajaan dan di bawah pemerintahan kolonial, namun demikian tonggak awal keberhasilan menghantarkan kemerdekaan Indonesia adalah karena penegakan nilai – nilai demokrasi. Sebagai bukti kongkritnya dapat kita rasakan adanya penetapan Kepala Desa dengan pemilihan Kepala Desa dan terbentuklah sebuah desa guna menghatarkan kebutuhan masyarakatnya untuk mencapai masyarakat sejahtera.

Referensi : http://gombong.sideka.id/profil/sejarah/

13 March 2018

BAKSOS BEREBES BERSAMA KBWB,PSB.OI BATANG

Alhamdulillah,Telah tersampaikan bantuan untuk bencana didesa Babakan Kecamatan Losari Kabupaten Brebes.
PSB bersama Ormas Oi Batang dan KBWB.
TANGGAL 12 Maret 2018

Jangan pernah Lelah untuk terus melakukan kebaikan,Peduli sesama


12 March 2018

Yoni Desa Plumbon - Limpung Batang



Bukti Peninggalan Kerajaan Majapahit di Kab.Batang - Jawa Tengah

Kabupaten Batang selain memilik tempat wisata yang cukup banyak, ternyata juga memiliki berbagai misteri yang membuat kita penasaran untuk mengungkapnya. Karena memang wilayah Kabupaten Batang ini merupakan pusat peradaban umat manusia khususnya di wilayah Jawa tempo dulu.



Terdapat banyak sekali bukti sejarah atau peninggalan-peninggalan kuno yang tersebar hampir di seluruh wilayah yang ada di Kabupaten Batang ini. Salah satu dari peninggalan kuno tersebut adalah YONI yang ada di Desa Plumbon Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah.

                           

YONI adalah bagian dari sebuah bangunan yang disucikan dan biasanya dibuat untuk membuktikan akan kedudukan seorang Raja atau Penguasa di wilayah tersebut.  Yoni biasanya digunakan sebagai dasar arca atau lingga. Ada  beberapa YONI yang ditemukan di wilayah Kecamatan Limpung dan kini telah disimpan di Kantor Disbudpar Kabupaten Batang. Diyakini benda bersejarah tersebut merupakan peninggalan zaman Kerajaan Majapahit tahun 1323 Masehi.
  
Sumber : http://boladiensadventure.blogspot.co.id/2017/12/yoni-desa-plumbon-limpung-bukti.html

11 March 2018

Wana Wisata Polowono – Limpung Batang


Wana Wisata Polowono – Baru-baru ini muncul objek wisata baru di kawasan Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Adalah Wana Wisata Polowono, sebuah destinasi menarik dengan keindahan alam berupa hutan pinus dan spot-spot menarik seperti jembatan cinta dan gardu pandang yang dapat menjadi lokasi selfie bersama teman-teman dan sahabat kita tercinta.


Foto instagram @muhajirinalfi

Palowono berada di lahan milik Perhutani yang awalnya hanyalah tempat biasa kemudian disulah menjadi sebuah kawasan wisata yang akhirnya menambah deretan wisata Kabupaten Batang.
Tak hanya terbatas hutan pinus dan spot foto menarik, di kawasan ini jug terdapat tiga curug atau air terjun yang dapat Anda kunjungi. Tiga curug tersebut adalah Curug Pager, Curug Kembar atau juga disebut Curug Pawon dan Curug Kumejing. Curu-curug ini menjadi nilai pluas bagi wisata polowono.

Foto instaagram @anna_fitrianna

Secara administratif, kawasan ini masih berada di wilayah Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah atau tepatnya berada di Desa Lobang. Dari pusat Kota Batang berjarak kira-kira 39 km atau sekitar 10 km dari Kecamatan Limpung. Petunjuk arah / Rute menuju lokasi dapat menggunakan googlemaps dari smartphone masing-masing. Sebelum tiba di lokasi Anda akan melewati desa Sukorejo dengan kondisi jalan yang lumayan menanjak dan juga berkelok.

Hotel dan Penginapan Sekitar Polowono

Karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota. Maka ketersediaan akomodasi / hotel di sekitar kawasan wisata ini sangat terbatas. Jadi bagi Anda yang datang dari luar kota bisa menginap di hotel yang lokasinya cukup jauh dari wana wisata polowono. Berikut beberapa hotel dan penginapan yang paling dekat dengan Wisata Polowono :
- Hotel Arjuna
Hotel arjuna berada di Jalan Raya Sembung – Banyuputih, Kabupaten Batang, Jawa Tengah 51271, Indonesia. Jarak dari wana wisata polowono kurang lebih 16 km. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor telpon hotel ini di nomor +62 812-2898-181.
- Hotel Arowana
Hotel Arowana terletak di Jalan Lingkar Alas Roban, Surodadi, Kabupaten Batang, Jawa Tengah 51281, Indonesia. Jarak dari lokasi polowono kurang lebih 23 km. nomor telpon +62 852-9013-4527
-Panorama Inn
Penginapan ini juga dapat menjadi rekomendasi saat berkunjung ke wanawisata polowono. Berada di kawasan Sembung, Banyuputih, Kabupaten Batang, Jawa Tengah 51271, Indonesia.
Demikian sekilas informasi mengenai Wana Wisata Polowono Batang, Info Harga Tiket dan Penginapannya. Semoga bermanfaat dan dapat menambah referensi wisata saat berkunjung ke Batang. Jangan lupa nanti kalau berkunjung kesana tetaplah menjaga kebersihannya ya.

Sumber : https://www.tipswisata.co/2017/07/wana-wisata-polowono-info-harga-tiket-dan-penginapannya.html